Hubbul Khoir

KHUTBAH IDULFITRI 1446 H: JAGA SEMANGAT PASCA RAMADHAN

🖋 Dr. Abu Zakariya Sutrisno
Join WA: https://s.id/materikhutbahHK

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا ﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ ﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوﷲَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ ﷲَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ( الاحزاب : ٧۰ – ٧١)
أَمَّا بَعْدُ :

Jama’ah Sholat Ied rahimani warahikumullah,

🔖 Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kita merasakan berbagai macam kenikmatan, diantaranya nikmat menjalankan ibadah di Ramadan. Mari kita bersyukur dengan sebenar-benarnya, tidak sekedar di lisan saja tetapi bil qolbi wal lisaani wal jawaarih yaitu dengan hati, lisan dan juga dengan amal nyata perbuatan badan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, teladan kita, kekasih kita, Nabi besar Muhammad, shalallahu ‘alaihi wassallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikutnya sampai hari kiamat kelak. Tak lupa, mari pasca Ramadhan ini, kita terus berupaya tingkatkan derajat ketaqwaan kita disisi Allah. Taqwa adalah sebaik-baik bekal di dunia dan akhirat. Allah berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Jama’ah rahimakumullah, hadirin sholat Ied yang dimuliakan Allah,
🔖 Hari ini kita merayakan Idulfitri, hari kemenangan bagi mereka yang telah menjalani ibadah Ramadan dengan penuh keimanan. Namun, kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya hari ini, melainkan bagaimana kita menjaga semangat ibadah pasca Ramadan. Ramadhan bukan akhir, tetapi awal kita untuk menjadi lebih baik. Karena itu, mari kita renungkan beberapa hal penting agar semangat Ramadan tetap hidup dalam diri kita.

📌 Pertama: Jaga Semangat Ibadah Secara Umum
Ramadan telah melatih kita untuk lebih dekat dengan Allah dengan berbagai macam ibadah dan amal sholih. Jangan sampai ibadah di bulan Ramadhan hanya sekedar “musiman”. Amal yang sedikit tetapi istiqomah itu lebih baik daripada amal yang banyak tetapi hanya sesaat atau musiman. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan berakhirnya Ramadhan bukan berarti berakhir pula segala amalan kita. Jangan menjadi hanya ramadhani, yang kenal Allah atau ibadah kepada Allah hanya di bulan Ramadhan saja. Jadilah seorang hamba yang rabbani, yang selalu kenal Allah, yang ibadah kepada Allah kapan pun dan di manapun kita berada. Mari kita jaga amalan-amalan yang telah kita biasakan di bulan Ramadhan. Salah satu bukti kita sukses melewati Ramadhan adalah dengan tetap istiqomah beribadah setelahnya. Para ulama’ mengatakan,
إِنَّ مِنْ عَلامَةِ قَبُولِ الْحَسَنَةِ، الْحَسَنَةَ بَعْدَهَا
Sesungguhnya di antara tanda diterimanya kebaikan adalah munculnya kebaikan setelahnya

📌 Kedua: Jaga Semangat Puasa Sunnah
Di bulan Ramadhan kita mampu puasa satu bulan penuh. Maka setelah Ramadan, kita teruskan kebiasaan puasa ini. Jangan sampai kita tidak berpuasa sama sekali sampai setahun lagi. Untuk itu Kita dianjurkan untuk puasa enam hari di bulan Syawal. Ini adalah sarana untuk menjaga konsistensi beribadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan, lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, no. 1164)

Selain itu, biasakan pula puasa sunnah lainnya, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah).

📌 Ketiga: Jaga Semangat Qiyamul Lail (Shalat Malam)
Selama Ramadan, kita terbiasa melaksanakan shalat tarawih dan tahajud. Jangan sampai setelah Ramadan kita meninggalkan qiyamul lail. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ
“Lakukanlah shalat malam, karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi)
Qiyamul lail adalah bukti ketakwaan dan kedekatan kita kepada Allah. Cukup beberapa rakaat, asalkan kita istiqamah dalam melakukannya. Misalnya kita terus jaga sholat witir kita, meskipun hanya satu rekaat tiap malam.

📌 Keempat: Jaga Semangat Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita. Jika selama Ramadan kita rajin membaca Al Qur’an bahkan ada yang sampai khatam beberapa kali, maka jangan biarkan kebiasaan ini berhenti. Setidaknya, biasakan membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari agar hati kita tetap terhubung dengan wahyu Allah, pedoman hidup kita. Selain kita baca kita usahakan pelajari maknanya. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang mempelajari dan mengajari al Qur’an. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam shahih Bukhari dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya.”
Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dikeluhkan oleh Rasulullah, yaitu orang-orang yang meninggalkan al Qur’an. Allah berfirman,
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً
“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang mereka tinggalkan”. (QS Al Furqan: 30)
Para jama’ah shalat Idulfitri rahimani wa rahimakumullah …

📌 Kelima: Jaga Semangat Berinfak dan Berbagi dengan Sesama
Ramadan mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama. Orang mudah sekali berinfaq dan berbagi di bulan Ramadhan. Namun, jangan hanya rajin bersedekah di bulan Ramadan, tetaplah berbagi sepanjang hidup kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Infak dan sedekah tidak harus dalam jumlah besar, tetapi yang terpenting adalah keikhlasan dan keberlanjutan dalam berbagi. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda,
فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Jagalah diri kalian dari api neraka meski dengan (bersedekah) separuh kurma.” (HR. Bukhari no. 1413 dan Muslim no. 1016)

📌 Keenam: Jaga Semangat Memakmurkan Masjid
Di bulan Ramadhan kita telah dibiasakan untuk memakmurkan masjid baik dengan sholat fardhu, sholat malam (tarawih), iktikaf dan lainnya. Maka mari jangan sampai selesai Ramadhan kemudian sama sekali tidak ke masjid lagi. Masjid-masjid jadi sepi. Ini tidak boleh. Ciri orang yang beriman adalah memakmurkan masjidnya Allah. Hatinya rindu dengan masjid Allah. Bahkan disebutkan dalam hadist, tentang orang-orang yang akan dinaungi nanti di akhirat adalah orang yang hatinya tertambat di ibadah di masjid Allah. Rasulullah menyebutkan:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ
“Seorang hamba yang hatinya selalu terikat dengan masjid.” (HR Bukhari 1357 dan Muslim 1031)

📌 Ketujuh: Jaga Semangat Membersihkan Hati
Di bulan Ramadhan ini, selama sebulan penuh kita telah “digembleng” oleh Allah dengan berbagai amalan untuk mensucikan jiwa kita atau tazkiyatun nafs. Puasa, qiyamul lail, tilawah al Qur’an, sedekah dan amalan yang lainnya tidak lain adalah untuk membersihkan jiwa kita agar kita bisa mencapai derajat taqwa (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ). Kita dilatih oleh Allah untuk menjadi pribadi yang bertaqwa, pribadi yang memiliki hati yang bersih. Maka jangan sampai kita kotori lagi setelah Ramadhan berlalu. Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugi orang-orang yang mengotorinya. Coba kita simak dalam surat Asy Syam, Allah bersumpah berkali-kali dari ayat 1 sampai 8 kemudian berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها . وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Diantara kotoran-kotoran yang dapat mengotori hati atau jiwa kita yaitu: syirik, kesombongan, hasad dan lainnya. Termasuk yang dapat mengotori hati kita adalah permusuhan. Setiap muslim adalah bersaudara, siapapun dia. Allah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat: 10)
Jangan sampai kita bermusuhan hanya karena masalah politik, perbedaan ormas, perbedaan karakter atau bahkan hanya gara-gara perbedaan pendapat. Hendaknya kita lapang dada dalam masalah-masalah khilafiyah. Apalagi khilafiyah tersebut hanya dalam hal furu’iyah, bukan hal yang prinsip dalam masalah agama. Permusuhan akan dapat mengotori hati kita. Sia-sia kita bersihkan hati kita di bulan Ramadhan tetapi kemudian kita kotori lagi.

📌 Kedelapan: Jaga Semangat Menjauhi Dosa dan Perbuatan Buruk
Ramadan telah melatih kita untuk meninggalkan maksiat dan dosa. Jangan sampai setelah Ramadan kita kembali kepada kebiasaan buruk. Allah berfirman:
لَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)

Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar walillahilhamd
Kaum Muslimin, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Jama’ah ibadah Sholat Ied yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

🔖 Istiqomah Ibadah Sampai Ajal Menjemput
Mari kita isi seluruh hidup kita dengan ibadah kepada Allah, berpindah dari satu kebaikan kepada kebaikan yang lain. Ibadah tidak mengenal batasan waktu. Selama Allah memberi kita kehidupan, maka selama itu pula kita berusaha mengabdikan hidup kita untuk beribadah kepadaNya. Semoga kita senantiasa beribadah sampai ajal menjemput kita. Allah berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS Al Hijr: 99)
Jama’ah ibadah Ied yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala

Kiranya sekian yang bisa kita sampaikan, semoga Allah mudahkan kita untuk istiqomah dan terus semangat menjaga ibadah-ibadah kita. Semoga Allah menerima segala amal kebaikan kita di bulan Ramadhan, baik berupa puasa, qiyamul lail, qiraatil qur’an, shadaqah dan amalan yang lainnya. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa kariim. Amien. Amien. Mari kita tutup khutbah ini dengan sholawat dan do’a.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ

🔖 Penyusun:
Dr Abu Zakariya Sutrisno (Pengasuh PP Hubbul Khoir Sukoharjo, Dosen UNS, Alumni S3 KSU Saudi). Website: www.hubbulkhoir.sch.id
Catatan sholat Ied:
• Sholat Ied dilakukan berjamaah, 2 rekaat seperti sholat Jum’at
• Pada rekaat pertama setelah takbiratul ihram disunnahkan takbir zawaid (tambahan) yaitu sebanyak 7x. Adapun pada rekaat kedua ditambah 5x takbir setelah takbir bangkit dari sujud.
• Sholat Idulfitri dikeraskan bacaannya (jahr) misal ketika baca al Fatihah dan surat setelahnya, begitu pula dengan bacaan takbir juga dikeraskan.
• Khutbah Ied dilaksanakan setelah sholat. Khutbah boleh sekali atau dua kali khutbah (diselingi duduk). Ini masalah khilafiyah dari kalangan ulama.